Rilis Media

Press Release: SURNAS 4 Lembaga

By 13 April 2013April 20th, 2026No Comments

HASIL SURVEI PERILAKU POLITIK MASYARAKAT MENUJU PEMILU 2009

Jakarta, 11 Maret 2009 – Hari ini, tepat 28 hari menjelang digelarnya Pemilu untuk memilih anggota DPR, DPD, DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota. Berbagai pemberitaan media massa mengurai sejumlah hal terkait persiapan pemilu pada tanggal 9 April mendatang. Dari soal sosialisasi cara memberikan suara yang terus dilakukan, pencetakan surat suara dan pendistribusiannya, sosialiasi peraturan KPU yang baru tentang penetapan caleg terpilih pengganti pasal 214 UU No.10/2008, hingga soal meningkatnya persaingan antarpartai politik dan antarcaleg yang kian meramaikan suasana kampanye menjelang hari pemungutan suara.

Lalu, bagaimana masyarakat merespon berbagai hal tersebut? Adakah harapan dan keyakinan bahwa pemilu yang sebentar lagi akan kita hadapi ini, dapat membawa keadaan yang lebih baik? Di sisi lain, akankah orientasi pilihan para calon pemilih terhadap partai politik beserta para calegnya, akan memberi makna pada wajah representasi politik Indonesia pasca Pemilu 2009 mendatang? Dan yang tidak kalah pentingnya, bagaimana prospek kinerja partai politik dan para calon presiden dalam pemilu 2009 mendatang?

Dalam kaitan memotret suasana menjelang pemilu 9 April 2009, pada hari ini, empat lembaga kajian yaitu CSIS, LP3ES, P2P LIPI, dan PUSKAPOL FISIP UI yang melakukan survei secara bersama, merilis hasil survei tentang Perilaku Politik Masyarakat menuju Pemilu 2009.

A. Metode Survei

Survei ini dilakukan secara nasional (nation-wide), menjaring 2957 responden yang tesebar di 150 desa di seluruh wilayah provinsi di Indonesia. Responden sepenuhnya dipilih secara acak bertingkat (multi-stage random sampling), dengan memperhatikan proporsi wilayah “desa-kota” dan aspek gender. Pengumpulan data lapangan dilakukan pada 9 s/d 20 Februari 2009 melalui wawancara tatap muka terhadap masyarakat usia dewasa (17 tahun keatas atau sudah menikah) pada saat Pemilu 2009 dilaksanakan. Ambang kesalahan (margin of error) dari survei ini adalah +/- 1.8% pada tingkat kepercayaan 95%.

B. Temuan Survei

1. Pengetahuan tentang Pemilu 2009

a) Cukup signifikan yang belum tahu tanggal pemilu.

Pemilu memang 28 hari lagi, tetapi survei menemukan ada sekitar 38.9% masyarakat yang tidak tahu kapan Pemilu Legislatif dilaksanakan. Sementara mayoritas (60%) dapat menyebutkan dengan benar hari dan tanggal pelaksanaan Pemilu Legislatif yaitu 9 April 2009. Terkait data ini, maka sosialisasi tentang waktu pelaksanaan pemilu harus lebih diintensifkan lagi.

b) Mayoritas tak yakin terdaftar sebagai pemilih.

Soal data pemilih kini menjadi salah satu isu krusial menjelang hari pemungutan suara apalagi setelah Pemerintah mengeluarkan Perppu terkait revisi Daftar Pemilih Tetap. Temuan survei menunjukkan dua hal: Pertama, masyarakat cenderung pasif dan tidak mau mengecek apakah sudah terdaftar atau belum. Hanya 18% yang mengaku pernah datang ke Ketua RT atau kantor kelurahan untuk mengecek apakah terdaftar sebagai pemilih. Sedangkan mayoritas (78%) mengaku tidak pernah mengecek apakah namanya terdaftar sebagai pemilih. Hal kedua, petugas pencatat juga tidak secara aktif mendatangi pemilih. Sebagian besar mengaku (61%) rumahnya tidak pernah didatangi petugas pemutakhiran data pemilih. Temuan ini menunjukkan perlunya perbaikan sistem pendaftaran pemilih dalam pemilu. Petugas tidak datang, sementara masyarakat pasif yang berdampak pada keakuratan data pemilih.

c) Sebagian tahu contreng, sebagian pilih coblos.

UU No.10/2008 memerintahkan cara memberikan suara dengan menandai satu kali pada surat suara. Lalu KPU menafsirkan hal tersebut dengan membuat aturan centang atau contreng satu kali dalam pemberian suara. Ternyata waktu yang kurang dari setahun untuk mensosialisasikan cara baru tersebut tidaklah cukup. Jika tidak ada aturan yang membolehkan coblos atau tanda lain, maka kemungkinan suara sah hanyalah 59%. Hal itu ditunjukkan dalam survei ini dimana hanya 59% masyarakat yang dapat memberi suara dengan benar sesuai aturan UU No.10/2008. Sebagian lainnya memilih dengan cara mencoblos pada surat suara (seperti berlaku pada pemilu-pemilu sebelumnya).

2. Partisipasi Politik dan Harapan terhadap Pemilu 2009

a) Mayoritas optimis pemilu membawa perubahan.

Pemilu 2009 ternyata disikapi dengan rasa optimistik oleh sebagian besar masyarakat. Sebanyak 69% masyarakat menganggap pemilu akan dapat membawa perubahan ke arah kehidupan yang lebih baik. Walau cukup signifikan pula yang menilai (29%) pemilu ketiga di era reformasi ini sebagai tidak akan membawa perubahan apapun. Hanya sebagian kecil (1.5%) yang sangat pesimis dengan pemilu 2009 ini. Sinyal positif ini hendaknya tidak diselewengkan oleh seluruh peserta pemilu, termasuk penyelenggara pemilu, dalam memberikan yang terbaik bagi selruh masyarakat.

b) Optimis tetapi belum tentu jurdil.

Harapan dan realita tampaknya belum tentu sesuai. Di tengah rasa optimis terhadap hasil pemilu, muncul keragunan apakah pemilu berlangsung jujur dan adil. Sebagian masyarakat (58%) merasa yakin bahwa pemilu akan berlangsung jujur dan adil. Namun temuan survei mencatat ada sejumlah besar masyarakat (25%) yang tidak yakin pemilu ini akan berlangsung jujur dan adil. Mengapa demikian? Beberapa indikasi dapat disebutkan, dan hal tersebut mungkin juga yang diamati oleh masyarakat. Seperti kasus-kasus politik uang dalam kampanye, keraguan akan netralitas aparat pemerintah dan aparat keamanan dalam pemilu, serta dampak ketatnya persaingan antarpartai politik dan antarcaleg di daerah pemilihan yang dianggap dapat mempengaruhi berlangsungnya pemilu yang bersih dari kecurangan.

c) Potensi partisipasi politik sangat tinggi.

Hasil survei ini menemukan kecenderungan yang menarik terkait perilaku masyarakat menjelang Pemilu 2009. Masyarakat optimis pemilu akan membawa perubahan lebih baik, tetapi ada keraguan apakah pemilu berlangsung jujur dan adil, sekalipun demikian hampir seluruh pemilih (95%) mengaku akan memilih dalam pemilu legislatif mendatang. Hanya sebagian kecil (1.3%) yang memastikan diri tidak akan memberikan suaranya; dan sebanyak 3.7% yang belum memutuskan hingga saat ini. Hal ini menunjukkan pemilu merupakan peristiwa yang sangat normal dalam kehidupan masyarakat Indonesia namun belum mampu membangun sikap kritis masyarakat terhadap hakekat pemilu itu sendiri.

d) Ada potensi memilih calon legislatif (caleg).

Kedekatan hubungan antara konstituen dan wakilnya di parlemen adalah esensi dari perwakilan politik yang diawali dari proses pemilu. Potensi kearah itu mulai muncul. Temuan survei menunjukkan cukup banyak calon pemilih (36%) yang akan memilih nama caleg pada surat suara dalam pemilu nanti. Sementara identifikasi terhadap partai politik masih lebih tinggi, yaitu sejumlah 46.5% yang akan memilih partai politik. Lainnya cenderung memilih partai dan caleg (15%). Hal ini gejala baik untuk membangun ikatan emosional dan akuntabilitas caleg ketika terpilih.

e) Mau milih caleg tapi tak kenal calegnya!

Keinginan memilih caleg tampaknya sulit terwujud karena mayoritas (70%) belum tahu nama caleg yang mau dipilih. Dari masyarakat yang berkeinginan memilih caleg, hanya sebagian kecil (30%) yang sudah tahu nama caleg yang mau dicentang. Hal ini perlu dicermati dalam perbaikan kualitas perwakilan politik, seperti dominannya caleg yang berasal dari luar daerah pemilihan terutama untuk DPR, terlalu banyaknya caleg dalam satu daerah pemilihan disebabkan jumlah partai yang banyak, serta masih kurangnya caleg yang secara langsung menemui masyarakat. Masyarakat umumnya mengetahui informasi tentang nama dan program caleg melalui spanduk atau atribut kampanye lainnya.

f) Caleg asal daerah pemilihan lebih disukai.

Keinginan pemilih untuk memilih caleg memang harus diakomodasi oleh partai politik dengan mencalonkan orang yang berasal dari daerah pemilihannya. Survei ini mengkonfirmasi bahwa mayoritas masyarakat (78%) lebih menyukai caleg yang asli daerah bersangkutan. Sementara ada sejumlah masyarakat (18%) yang tidak mempersoalkan asal daerah caleg.

3. Perilaku Pemilih dan Peta Politik 2009

Sebelum membahas hasil temuan survei mengenai peta parpol dan capres, ada dua catatan penting. Pertama, dinamika politik di Indonesia dapat berubah dengan cepat. Jika kita membandingkan peta politik pertengahan tahun lalu dan peta saat ini, kita akan melihat adanya perubahan yang sangat drastis dalam peta parpol maupun capres.

Catatan kedua terkait dengan “timing” pengambilan data survei. Setelah survei ini dilakukan, ada beberapa kejadian-kejadian politik penting, seperti pernyataan JK yang siap menjadi capres, wacana koalisi PDIP-Golkar, maupun wacana-wacana politik lain yang sangat mungkin mengubah gambaran peta politik. Perubahan-perubahan ini agaknya belum tertangkap dalam hasil survei berikut.

Karena itu menjadi penting bagi kita untuk melihat dan menganalisis hasil temuan-temuan ini dengan memperhatikan konteks kejadian politik pada saat dan atau sebelum survei dilakukan. Kejadian politik paska pengumpulan data survei tersebut masih sangat mungkin mengubah peta politik seperti yang digambarkan dalam hasil survei ini. Namun demikian, hasil survei ini tetap penting dalam memberikan rujukan tentang bagaimana kondisi peta politik Indonesia di awal tahun 2009, khususnya pertengahan bulan Februari. Temuan-temuan survei ini juga penting dalam memberikan gambaran tentang faktor-faktor penting yang dapat mempengaruhi perubahan peta politik Indonesia.

a) Pengaruh Iklan dan lingkungan bervariasi tergantung parpol

Dalam survei ini ditemukan bahwa pengaruh iklan Gerindra di dalam mendongkrak perolehan suara partai ternyata masih minim. Banyaknya orang yang pernah melihat iklan Gerindra ternyata tidak membuat dukungan terhadap Gerindra tinggi. Melainkan, diantara responden yang menyatakan bahwa mereka paling sering melihat iklan Gerindra, hanya 4.59% yang akhirnya memilih Gerindra. Hal ini berbeda jauh misalnya dengan iklan Golkar, PDI-P, dan Demokrat. Diantara responden yang mengaku paling sering melihat iklan Golkar, PDI-P, dan Demokrat, rata-rata 38% dari mereka memilih partai tersebut.

Selain frekuensi, tingkat kesukaan terhadap iklan lebih penting. Diantara responden yang mengaku paling menyukai iklan salah satu dari tiga partai terbesar, rata-rata sekitar 67% dari mereka memilih salah satu dari tiga partai tersebut. Gerindra kembali menjadi anomali karena dari orang-orang yang mengatakan bahwa mereka menyukai iklan Gerindra, hanya 11.7% yang akhirnya memilih partai tersebut.

Efek preferensi lingkungan atau preferensi “orang dekat” juga bervariasi tergantung parpol. Cluster lingkungan pendukung PKS ternyata memiliki pengaruh paling kuat terhadap pilihan parpol individu. Diantara responden yang menyatakan bahwa orang-orang dekatnya memilih PKS, 61.8% memilih PKS. Sementara itu, pemilih PDI-P dan Demokrat ternyata merupakan pemilih yang sangat dipengaruhi oleh preferensi lingkungan. 81.8% dan 76.1% pendukung PDI-P dan Demokrat dikeliling oleh orang-orang terdekat yang memilih partai yang sama.

b) Demokrat, Golkar, dan PDI-P bersaing ketat. 8 parpol lolos parliamentary threshold.

Hasil survei ini menunjukkan bahwa Partai Demokrat masih terdepan dalam perolehan dukungan, dimana 21.52% responden survey menyatakan bahwa mereka akan memilih PD jika pemilu diadakan hari ini. PDI-P dan Golkar menduduki peringkat kedua dan ketiga, yang masing-masing didukung oleh 15.51% dan 14.27% pemilih. Ada perbedaan yang signifikan antara ketiga partai teratas dengan partai lainnya. Setelah Golkar, peringkat keempat dan kelima diduduki oleh PPP dan PKS yang hanya memperoleh 4.15% dan 4.07% dukungan; kemudian oleh PKB, PAN, dan Gerindra, masing-masing memperoleh 3.25%, 2.91%, dan 2.62%. Selain 8 partai ini, tidak ada partai lain yang memperoleh suara diatas 2%.

Ada tiga kesimpulan yang dapat diambil dari gambaran ini. Pertama, telah terjadi pengerucutan dukungan pemilih terhadap tiga parpol besar yaitu PD, PDI-P, dan Golkar. Kedua, berdasarkan survey ini, diperkirakan hanya akan ada 8 parpol yang akan lolos parliamentary threshold. Ketiga, kemungkinan melejitnya partai baru atau kecil yang dapat menyamai kesuksesan PD dan PKS di pemilu 2004 masih sangat kecil.

Satu aspek yang sangat penting yang perlu dibahas dari temuan mengenai parpol adalah masih tingginya jumlah pemilih yang belum menentukan pilihannya, yaitu sebanyak 22.8%. Fluiditas peta parpol yang ada bahkan lebih jelas terlihat jika kita menanyakan lebih jauh kepada responden yang sudah memiliki pilihan, apakah pilihan mereka sudah pasti atau belum. Kami menemukan bahwa ada 30.7% dari total jumlah pemilih yang sudah memiliki pilihan namun pilihan mereka masih mungkin berubah. Jadi secara keseluruhan ada 53.5% pemilih yang menyatakan bahwa mereka belum memiliki pilihan yang pasti untuk pileg mendatang.

c) Peta capres: SBY masih unggul

Seperti peta parpol, peta capres pun mengalami pengerucutan kepada dua nama, SBY dan Megawati, dimana SBY masih unggul cukup jauh dari Mega. Jika responden ditanyakan siapa pilihan presiden mereka jika pemilu diadakan hari ini, 46% menyatakan akan memilih SBY, 17% akan memilih Mega, 4.7% akan memilih Sultan, dan 4.6% akan memilih Prabowo. Nama-nama lain, termasuk Wiranto, Hidayat, dan JK, belum memperoleh suara yang signifikan. Yang juga penting untuk dicatat adalah sebanyak 38.5% responden menyatakan bahwa pilihan mereka masih dapat berubah.

SBY terlihat sangat populer karena ia mampu membangun persepsi bahwa keberhasilan pemerintah. Sehingga, ketika seseorang memilih SBY, ia tidak lagi melihat apa yang ditawarkan oleh SBY, melainkan melihat apa yang telah dilakukan SBY. Selain itu pengeluaran biaya iklan yang sangat besar juga sangat membantu membangun popularitas dan elektabilitas SBY.

d) Perpisahan SBY-JK akan membuat peta capres makin dinamis

Terkait dengan perkembangan politik belakangan ini dimana JK menyatakan siap menjadi capres, pertanyaan skenario yang diajukan dalam survei kami dapat mengukur efek minimal JK terhadap perolehan suara SBY. Dalam skenario 1, ada tiga pasangan yang diajukan dalam survei ini yaitu: Mega-Sultan, SBY-JK, dan Prabowo-Hidayat. Dalam skenario pertama ini, SBY-JK menang secara dominan dengan perolehan 51.5%. Dalam skenario 2, pasangan SBY diganti menjadi Akbar Tanjung dan dihadapkan pada pasangan Mega-Sultan, dan JK-Hidayat. Kembali SBY-AT unggul dengan memperoleh 46.7%, diikuti oleh Mega-Sultan dengan perolean 31.7%, dan JK-Hidayat 5.8.

Pengaruh/kontribusi seorang cawapres, dalam hal ini JK, terhadap perolehan dukungan pasangan SBY-JK, dapat diukur dengan melihat berapa banyak jumlah pendukung SBY-JK dalam skenario 1 yang tidak lagi mendukung SBY di dalam skenario 2. Hasil analisa menunjukan bahwa jika SBY-JK berpisah, SBY akan kehilangan minimal 25% dari perolehan suaranya, atau sekitar 12.9% dari total pemilih. Jumlah ini cukup signifikan mengingat pada waktu pengambilan data, JK belum mendeklarasikan dirinya menjadi capres.

e) Peta parpol dan capres masih dinamis

Hal terakhir yang perlu ditekankan dan digaris bawahi adalah peta parpol menjelang pileg dan peta capres menjelang pilpres masih akan berubah. Dengan kata lain, peta politik Indonesia satu bulan menjelang pileg dan empat bulan menjelang pilpres masih akan sangat dinamis dan masih sangat mungkin terjadi perubahan.

Beberapa hal yang akan sangat mempengaruhi dinamika politik diatas adalah:

  1. Jumlah pemilih yang belum memiliki pilihan yang mantap masih sangat signifikan, yaitu sekitar 50% untuk pilihan parpol dan 40% untuk pilihan presiden. Selain itu, sekitar 25% pemilih menyatakan bahwa mereka baru akan menentukan pilihannya di hari “H”.
  2. Jika kita melakukan tracking perubahan popularitas parpol dan capres, kita akan melihat secara jelas fluktuasi yang mungkin terjadi. Misalkan pertengahan tahun lalu, SBY hanya memperoleh 23%. Dalam kurun waktu singkat, SBY saat ini melesat dengan perolehan dukungan hampir 50%. Begitu juga dengan PD, meski ada pada posisi popularitas terendah pada bulan Juni lalu waktu kenaikan harga BBM, dalam waktu singkat popularitasnya dapat meningkat pesat. Jadi dapat disimpulkan bahwa pemilih Indonesia sangat “volatile”.
  3. Pengaruh efek krisis ekonomi yang mulai terasa. Misalkan:
    1. KOMPAS 5 Maret 2009 memberitakan bahwa dari Desember 2008 ke Januari 2009: jumlah kredit turun 2.1%, cadangan devisa turun 1.5%, ekspor turun 17.7%, dan penjualan mobil mobil turun, 20.2%
    2. Jakarta Post 5 Maret 2009 memberitakan bahwa 18,000 pekerja di Jawa Barat di dalam Industri sepatu, tekstil, pakaian, dan electronic diberhentikan pada bulan Januari dan Februari.

Sementara itu, pemerintah memang sudah mempersiapakn paket-paket stimulus. Yang menjadi tantangan disini adalah proses pembahasan paket-paket stimulus di DPR akan menjadi sangat politis sifatnya.

  1. Pernyataan kesiapan JK sebagai capres 2009. Seperti yang sudah disebutkan diatas, efek minimal JK terhadap perolehan dukungan pasangan SBY-JK adalah 25% dari total dukungan SBY-JK. Jadi JK ternyata memiliki kontribusi yang signifikan, dan perpisahan SBY-JK berpotensi untuk membuat peta capres menjadi lebih tak menentu. Apalagi jika JK mampu mengkonsolidasi Partai Golkar dan menggalang koalisi dengan parpol lain, misalkan seperti yang akhir-akhir ini terus diwacanakan yaitu koalisi PDI-P dan Golkar.
  2. Dominannya SBY dalam peta capres tidak lepas dari belum jelasnya capres yang didukung oleh partai-partai kelas menengah seperti PKS, PPP, PKB, PAN, dan Gerindra. Jika partai-partai ini sudah memiliki preferensi capres yang jelas, peta dukungan capres akan lebih jelas gambarannya.

C. Kesimpulan

Hasil survei ini menyimpulkan beberapa hal terkait suasana menjelang pemilu 2009 ini.

  1. Minat masyarakat untuk memilih pada pemilu kali ini relatif tinggi, dengan beberapa aspek positif yang dapat diprediksi. Antara lain, keinginan untuk memilih caleg cukup besar yang dapat ditafsirkan sebagai proses ke arah hubungan yang lebih akuntabel antara caleg dengan konstituen. Sikap masyarakat untuk menolak politik uang sebetulnya tinggi namun kesadaran kritis untuk melawan dengan cara melaporkan kasus tersebut ke aparat berwenang yang belum muncul. Situasi inilah yang memunculkan keraguan apakah pelaksanaan pemilihan umum dapat jujur dan adil.
  2. Penyelenggara pemilu, KPU beserta jajarannya, harus sangat intensif, terarah dan efektif melakukan sosialisasi dalam 30 hari menjelang pemungutan suara ini.
  3. Faktor persepsi ekonomi, iklan politik, dan preferensi “orang dekat” mempengaruhi pilihan politik seseorang, meski kadarnya bervariasi dari satu kelompok ke kelompok lainnya.
  4. Persaingan partai politik kian ketat. Hal itu terjadi dalam kelompok-kelompok yang berbeda. Pertama, kelompok tiga besar yaitu Demokrat, PDIP dan Golkar yang saling bersaing merebut suara sebanyak-banyaknya agar dapat memenangkan pemilu legislatif dan meraih posisi aman untuk pemilihan presiden. Kedua, kelompok partai tengah yaitu PPP, PKS, PAN, dan PKB yang bersaing merebut posisi aman diatas 5 persen suara nasional dan menjadi faktor kunci dalam koalisi pengusung pasangan presiden. Ketiga, kelompok partai baru yang didominasi Gerindra, disusul Hanura, dan partai-partai seperti PKNU, PMB, PDP yang berusaha meraih simpati dari kantong-kantong suara partai politik ‘induknya’. Partai-partai ini berusaha keras lolos PT 2,5% suara nasional.
  5. Kesediaan Jusuf Kalla sebagai capres dipastikan meramaikan persaingan capres menjelang pemilu presiden. Walau masih dini, pencalonan JK dapat mempengaruhi keunggulan SBY yang selama ini difavoritkan. Siapa yang menjadi cawapres dari SBY, Mega dan JK diprediksi akan memegang peranan penting untuk memainkan bandul dukungan politik masyarakat. Apakah SBY tetap berpasangan dengan JK?
  6. Dalam waktu dekat, perubahan peta parpol maupun capres masih sangat mungkin terjadi mengingat sebagian besar dukungan terhadap parpol maupun capres sangat mudah dipengaruhi perubahan politik maupun ekonomi, seperti faktor koalisi, deklarasi dukungan parpol terhadap capres tertentu maupun potensi pengaruh-pengaruh krisis ekonomi terhadap kondisi kehidupan masyarakat.

Untuk informasi lebih lanjut:

  • Fajar Nursaid (LP3ES)
  • Lili Romli (P2P LIPI)
  • Sri Budi Eko Wardani (PUSKAPOL FISIP UI)
  • Sunny Tanuwidjaja (CSIS)