Artikel

Penggusuran Kampung Bayam: Dapatkah perumahan vertikal memecahkan masalah kaum miskin perkotaan?

By 3 Agustus 2026Agustus 31st, 2026No Comments

7 Juli 2026 — Asisten peneliti Pusat Kajian Politik (PUSKAPOL) Universitas Indonesia, Velma Anindya Hapsari, telah mempublikasikan artikelnya di media Inside Indonesia. Artikel ini bertajuk “The Kampung Bayam eviction: Can vertical housing solve the problems of the urban poor?” Penulisan artikel ini didasarkan pada hasil riset kelompok untuk mata kuliah Politik Perkotaan di Program Sarjana Ilmu Politik UI. Riset dilakukan dengan mengangkat tema community power warga Kampung Bayam sebelum dan setelah penggusuran. Namun, sebagai output, Velma memilih untuk mempersempit topik mengenai hunian vertikal di Kampung Bayam.

Perhatian terhadap hunian vertikal berangkat dari masalah umum di perkotaan, yaitu keterbatasan tanah yang memengaruhi ketersediaan hunian. Hal serupa pun terjadi di Kampung Bayam setelah pembangunan Jakarta International Stadium (JIS). Awalnya, hunian masyarakat Kampung Bayam berbentuk horizontal, seperti kampung pada umumnya dengan lahan yang biasa mereka gunakan untuk bertani. Namun, pembangunan JIS membuat mereka harus berhadapan dengan kriminalisasi dan lahan mereka yang semakin sempit memengaruhi berkurangnya lahan produktif untuk bertani.

Tulisan ini juga menyoroti perjuangan warga Kampung Bayam dalam mendapatkan haknya untuk tinggal di tanah tersebut. Penggusuran, pengusiran, hingga kriminalisasi, kerap dialami oleh warga sekitar. Dengan menggunakan konsep rights to the city, Velma menyoroti bahwa hal-hal ini terjadi karena pembangunan kota yang berorientasi pada kepentingan neoliberal sehingga meminggirkan mereka yang dianggap tidak menguntungkan pasar dan mengakomodasi kepentingan mereka yang berkontribusi besar terhadap pasar. Setelah bertahun-tahun berpindah tanpa kepastian, perjuangan warga Kampung Bayam akhirnya membuahkan hasil dengan 133 keluarga resmi kembali menempati Kampung Susun Bayam.

Meskipun demikian, artikel ini menegaskan bahwa kepindahan ke hunian vertikal tidak serta-merta menyelesaikan persoalan warga. Velma memaparkan berbagai tantangan baru yang muncul, mulai dari sulitnya mempertahankan mata pencaharian di ruang yang lebih tertutup, ketidakjelasan aturan penggunaan ruang bersama, hingga kekhawatiran akan biaya sewa dan potensi penggusuran susulan. Namun, hunian vertikal juga membawa keuntungan bagi warga Kampung Bayam karena lahan yang tersisa masih dapat digunakan untuk bertani. Warga juga berinisiatif untuk menggunakan rooftop untuk menanam. Mereka juga mengajukan proposal pengembangan kolam ikan di sekitar hunian sebagai sumber penghasilan baru yang menunjukkan daya tahan dan inisiatif kolektif yang terus mereka jaga.

Tulisan ini menawarkan refleksi penting bagi kebijakan perumahan pascapenggusuran, terutama vertikal, bahwa solusi tata ruang tidak boleh dirancang sepihak, tetapi harus melibatkan warga secara bermakna dalam proses perencanaan agar benar-benar menjawab kebutuhan dan realitas hidup mereka sehari-hari.

Baca artikel selengkapnya: The Kampung Bayam eviction