
31 Juli 2026 — Direktur Pusat Kajian Politik (PUSKAPOL) Universitas Indonesia, Hurriyah, bersama peneliti PUSKAPOL UI, Revo Linggar Vandito, menerbitkan artikel di East Asia Forum berjudul “Personalist Politics Pave the Way for Indonesia’s Authoritarian Revival.” Artikel ini membahas perkembangan politik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir serta menguatnya pola politik personalistik yang dinilai dapat membuka ruang bagi kemunduran demokrasi dan kebangkitan kembali praktik-praktik otoritarian.
Dalam artikel tersebut, Hurriyah dan Revo menyoroti bagaimana konsentrasi kekuasaan pada figur politik dan semakin kuatnya figur personal dalam partai politik dapat memengaruhi institusi demokrasi. Partai Politik yang semakin berpusat pada individu berisiko melemahkan peran institusi, mekanisme checks and balances, serta ruang bagi aktor-aktor di luar lingkaran kekuasaan untuk berpartisipasi secara bermakna.
Kondisi tersebut menjadi semakin penting untuk diperhatikan ketika institusi demokrasi seperti partai politik tidak lagi memiliki kapasitas yang cukup untuk membatasi atau mengawasi penggunaan kekuasaan. Ketika lembaga politik dan institusi negara semakin bergantung pada kepentingan serta jaringan personal seorang pemimpin, proses demokrasi dapat tetap berlangsung secara prosedural, tetapi kehilangan substansi dalam hal akuntabilitas, kompetisi politik, dan perlindungan terhadap kebebasan sipil.
Hurriyah dan Revo juga menggarisbawahi bahwa kemunduran demokrasi tidak selalu berlangsung melalui perubahan sistem secara tiba-tiba. Pelemahan demokrasi dapat terjadi secara bertahap melalui perubahan institusional, konsolidasi kekuasaan, serta normalisasi praktik politik yang semakin personalistik. Karena itu, keberadaan institusi demokrasi yang independen dan mekanisme pengawasan yang efektif menjadi penting untuk mencegah konsentrasi kekuasaan yang berlebihan.
Artikel ini juga menempatkan perkembangan politik Indonesia dalam konteks yang lebih luas, khususnya bagaimana warisan demokratisasi pasca-Reformasi menghadapi tantangan baru. Penguatan politik personalistik menunjukkan bahwa keberhasilan demokrasi tidak hanya bergantung pada keberadaan pemilu, tetapi juga pada kemampuan institusi untuk menjaga batas-batas kekuasaan dan memastikan adanya kompetisi serta akuntabilitas politik.
Melalui publikasi ini, Hurriyah dan Revo turut memperkaya diskusi mengenai kondisi demokrasi Indonesia serta pentingnya menjaga institusi demokrasi agar tetap mampu menjalankan fungsi pengawasan dan pembatasan kekuasaan. Kajian tersebut sekaligus menjadi bagian dari kontribusi PUSKAPOL dalam menghadirkan perspektif berbasis riset mengenai perkembangan politik dan demokrasi di Indonesia.
Bagi pembaca yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai pembahasan tersebut, artikel lengkap “Personalist Politics Pave the Way for Indonesia’s Authoritarian Revival” dapat dibaca melalui East Asia Forum.
Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai kegiatan, riset, publikasi, dan berbagai agenda PUSKAPOL lainnya, ikuti terus perkembangan terbaru melalui kanal resmi PUSKAPOL FISIP UI.
